Perlukah Pendidikan Anak Usia Dini?

By Dewi M - October 13, 2018


Beberapa waktu yang lalu ramai di beranda facebook mengenai pendidikan anak di usia dini, namun sayangnya artikel tersebut terkesan menyalahkan orangtua yang terburu-buru menyekolahkan anaknya (usia 2-3 tahun udah di sekolahin). Bahkan isi dari artikel itu sangat menakutkan bagi sebagian orangtua, masa iya kalo anak disekolahin dari kecil bisa bikin anak jadi gak semangat belajar, bakal di DO lah dari universitas ketika dia dewasa kelak bahkan parahnya anak bakalan punya gangguan perilaku!

Uuuh, bacanya aja bikin perut mules dan hati berdesir! *hihihi
Daripada pusing mikirin apakah keputusan saya tepat atau tidak, saya berpikir pasti yang nulis itu anaknya masih kecil dan gak dimasukin PAUD atau bisa juga pikirannya masih terpusat pada SEKOLAH=BEBAN PELAJARAN.

Padahal ni bu ibu, ada beragam pendapat mengenai hal tersebut. Oia, fyi gak semua sekolah TK ataupun PAUD mebebankan pelajaran selayaknya anak SD. Zaman sekarang banyak kok tersedia sekolah yang menganut sistem fun learning apalagi di tingkat PAUD dan TK.

Dilansir dari mommiesdaily.com (2013/9/04), kalau kita mengacu pada pendapat David Elkind (psikolog perkembangan), jika orangtua mampu menyediakan pendidikan anak usia  pra sekolah di rumah, cukup kompeten serta punya dedikasi, dalam pengertian cukup waktu dan energi untuk menstimulasi anak secara khusus. Sebenarnya preschool tidaklah penting. Terlebih jika lingkungan rumah memungkinkan anak bermain dengan teman sebaya dan bertemu orang dewasa selain orang tua. Namun jika kondisi yang terjadi justru sebaliknya,  itu tandanya preschool menjadi hal yang penting.

Lain lagi nih dengan pendapat Faisal M.ED. Selaku praktisi pendidikan sekaligus Vice Principal dari International Islamic School di Kuala Lumpur, Faisal mempunyai pandangan tersendiri. Di mana katanya, sebaiknya anak mulai sekolah saat usianya menginjak 3 tahun. Di bawah itu, sebaiknya ‘sekolah’ di rumah dulu saja, karena tingkat kedewasaan anak-anak untuk menerima segala aktivitas di sekolah belum ada. 

Jadi sebagai orangtua, kita harus bisa lebih jeli membaca kebutuhan si anak. Kalau menurut saya pribadi kenapa saya memilih menyekolahkan anak saya di usia yang beri menginjak 2,8 tahun? Karena saya merasa itu merupakan pilihan terbaik. Pada saat itu saya hanya berduaan saja dengan anak di rumah dengan kondisi sedang hamil, tau sendiri kan bu ibu kalau orang hamil moodnya naik turun!. Sementara lingkungan sekitar tidak mendukung sebagai tempat yang baik untuk bersosialisasi, masa iya ada anak kecil udah pintar mengumpat layaknya orang dewasa? Bayangkan jika anak saya dibiarkan dan dilepaskan begitu saja dalam lingkungan yang seperti itu? Bisa berabe kan! 

Anak mau dikurung seharian di rumah, ya kasihan juga! Untuk itu kami sebagai orang tua memilih untuk memasukkannya ke sekolah PAUD di dekat rumah.



Dalam memilih sekolah juga tidak boleh sembarangan, bu ibu. Pertimbangan saya dalam memilih sekolah adalah memilih sekolah yang sekiranya tidak membebankan pelajaran kepada anak, dalam artian anak bisa bebas belajar sambil bermain, anak juga tidak ditekan HARUS disiplin apalagi ditekan WAJIB menguasai CALISTUNG di usia tertentu. Jadi anak murni belajar bersosialisasi saja selama di sekolah. Daaan sekolah steril dari abang-abang jualan jajanan, jadi anak bawa bekal sendiri dan bahkan dapat snack dari sekolah.

Emang ada sekolah yang nyantai kek gitu? saya balik tanya deh, emang ada sekolah PAUD yang mewajibkan anak didiknya harus disiplin, gak boleh moody dan harus pintar baca tulis? Kalo ada mending dihindari deh bu. Karena anak masih kecil, wajar kalau dia moody, bangun agak siang, kadang maunya pakai sandal kesekolah bahkan kadang gak mau pakai seragam. Alhamdulillah, sekolah anak saya mengerti itu semua jadi sampai sekarang tak pernah ada beban walaupun anak saya sekolah. Bahkan saya lebih tenang ketika anak saya ikut bermain dilingkungan rumah yang kurang begitu baik.

Terus apa gunanya anak disekolahin kalau anak gitu-gitu aja perkembangannya (gak bisa baca tulis?)
Yup, zaman sudah modern bu ibu. Tingkat kepandaian anak bukan hanya diukur seberapa pintar dia dalam pelajaran formal namun juga dalam berperilaku. Semua itu ada prosesnya, akan ada waktunya anak pintar calistung tapi pastinya bukan pada usia dini.

Waah udah bayar mahal-mahal anaknya cuma main aja kerjaannya!
Ya udahlah tak geleng-geleng ae. 😂

Pada akhirnya keputusan ada ditangan kita masing-masing sebagai orang tua. Beberapa orangtua mampu memberikan pendidikan sendiri di rumah, diberi kesempatan dan waktu yang lebih untuk mendidik anak mereka di rumah bahkan tinggal dilingkungan yang bagus untuk perkembangan anak. Namun sayangnya ada sebagian orang tua yang tak bisa melakukan hal tersebut, baik dari faktor pribadi maupun lingkungan.

So, stop judging each other! Dibalik setiap keputusan orangtua untuk buah hatinya pasti ada pertimbangan penting.

  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. Kalau saya pribadi, masukkin anak ke PAUD itu biar dia punya temen main aja sih. Belajar berteman. Nggak nuntut banyak.

    ReplyDelete