Dia Bukan Takdirku

By Dewi M - October 22, 2018



Gemericik hujan yang sedari tadi membasahi bumi masih juga belum berhenti. Ku sesap teh hangat yang tersaji di meja kerja sedikit demi sedikit sembari memeriksa dokumen yang kemarin telah selesai ku kerjakan. Dengan harapan hangatnya teh mampu menghilangkan dinginnya hawa pagi ini yang mampu menembus hingga ke dalam hatiku. 

Dengan gelisah, ku edarkan pandangan mengelilingi ruangan. Berharap menemukan sosok yang kucari, yang biasanya melewati anak tangga ruangan lantai satu ini. Dialah sosok yang mampu mencerahkan hariku, sosok yang menjadi alasan mengapa aku betah berada di kantor, sosok yang menjadi alasanku untuk tiba di kantor lebih awal.

“Kamu nyari siapa, Vin?” tanya Devi yang rupanya melihat kegundahanku.

“Eh, E enggak …,” jawabku kebingungan.

“Nyari Adam, ya? Katanya sih dia bakalan telat, ada urusan mendadak.” Mendengar kata-kata Devi entah mengapa rasa kecewa menyusup ke dalam hati. Tiba-tiba saja aku kehilangan minat terhadap teh hangat yang sedari tadi menemani agar tak kedinginan. 

“Iih, apaan sih! Siapa juga nyariin dia,” aku berusaha mengelak. 

Ku tundukkan wajahku, berpura-pura menekuri komputer agar Devi tak bisa melihat semburat merah yang saat ini pasti menghiasi pipiku. 

“Eeh, Adam! Baru datang, nih. Jangan lupa data yang ku minta kemarin. Segera siapkan, ya!” suara Devi membuatku kaget. 

Mendengar namanya disebut tiba-tiba saja semangat ini muncul kembali. Sekelebat desiran di hati muncul tanpa sempat ku tepis.

“Selamat pagi, Vin! Yang rajin kerjanya, jangan asal-asalan kalau ngetik, ya!” sapa Adam seraya tersenyum sebelum menghilang menuju ruangannya di lantai atas. Aah, betapa leganya hati ini melihatnya, pertanda hari ini tak akan kelabu, sekelabu langit yang tak henti-hentinya memuntahkan butiran air yang entah kapan akan reda. 

“Dev, kok aku perhatikan Adam enggak kebasahan, ya! Padahalkan di luar hujan deras banget,” tanyaku pada Devi sambil mulai mengerjakan pekerjaan yang menumpuk di meja kerja. 

“Paling dia naik mobil. Biasanya aku nebeng sama dia kalau hujan gini,” jawab Devi tanpa berpaling dari komputernya. 

“Oooh, dia punya mobil, ya!” kataku.

“Heem.” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Devi. Ku putuskan menyudahi obrolan kami karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Lagipula, aku harus menyelesaikan pekerjaanku sesegra mungkin agar bisa ngobrol bersama Adam dengan tenang nanti.

Ketika sedang asyik-asyiknya mengetik tiba-tiba saja Adam muncul mengagetkanku.

“Pinjam stempel, donk!” katanya sembari mengobrak abrik dokumen yang tersusun rapi di samping meja kerjaku.

“Eh, enak aja. Main hambur meja orang lain. Sabar dikit kenapa, sih!” kataku ketus.

“Kelamaan. Takutnya kamu gak konsen nanti malah enggak karuan kerjaanmu seperti biasanya,” katanya enteng.

“Kamu nih, ya!”

“Udah dapat! Aku bawa dulu stempelnya. Bye,” ujar Adam lagi, kali ini tangannya dengan lincah menekan huruf di keyboard komputerku secara acak.

“Iiiih, Adaaaam …,” teriakku geram. Sementara dia hanya tertawa, kembali berjalan menuju ruangannya.

Begitulah Adam, orang yang paling usil di kantor. Bahkan keusilannya sudah melegenda. Tak ada satupun dari kami yang tak luput dari tingkah nyelenehnya. Meskipun demikian, aku tak bisa marah padanya. Meskipun kadang ingin sekali melemparkan sepatu ke wajahnya, namun rasa senang akan gurauan-gurauan receh itu membuatku girang tak kepalang hingga melupakan niat untuk membalas perlakuannya.

Adam, meskipun konyol namun memiliki kharisma tersendiri di mataku. Bukan hanya karena tampangnya yang lumayan, tapi juga karena tunggangan yang dipakainya setiap hari ke kantor. Selain itu meskipun dia punya segalanya, tak pernah ia merasa jemawa dengan bertingkah sombong memamerkan apa yang dia punya. Selalu saja ada kejutan-kejutan tak terduga mengenai Adam yang baru ku ketahui setiap harinya. 

Oooh … Adam! Tak terasa, tanpa diperintah, bibirku menyunggingkan senyuman. 

“Adam, emang gitu orangnya, Vin! Semua orang dia jahilin, bukan hanya kamu,” kata Devi yang meja kerjanya terletak tepat dihadapanku.

“Oooh … gitu, ya Mbak Dev!”

“Lama-lama juga kamu bakalan tau, kok! Kalau dia emang gitu tingkahnya, gila banget tuh anak. Waktu aku baru kerja di sini kayak kamu, habis juga aku dikerjainya tiap hari. Tanya aja tuh sama yang lain, semua anak baru pasti kena.” 

Melihatku hanya diam menyimak perkataannya, Devi melanjutkan, “Kamu yang sabar, ya! Jangan sampai kamu … ” belum selesai Devi menjelaskan, tiba-tiba telepon di mejanya berbunyi. Dengan cekatan Devi menerima panggilan telepon tersebut. Setelah itu Devi segera beranjak dari tempat duduknya meninggalkan ruangan dengan membawa setumpuk dokumen
 
***

Aku baru saja hendak memejamkan mata ditemani lagu Nella Kharisma ketika tiba-tiba bayangan Adam melintas. Setelah seharian bekerja tentu saja tidur merupakan hal yang paling nyaman untuk dilakukan. Hanya saja aku tak dapat memejamkan mata, pikiranku di penuhi oleh Adam. Senyum manisnya, tawanya yang renyah saat berhasil mengerjaiku silih berganti mengisi kepala. 

Ku raih gawai yang tergelatak di sampingku. Ku buka kontak BBM Adam. Ingin sekali ku tulis pesan untuknya tapi ada perasaan ragu yang hinggap. Tak apalah, jika aku hanya mengucapkan selamat malam, pikirku. Tentu hal tersebut bukan masalah besar.

Setelah mempertimbangkan ratusan kali dengan puluhan kata yang ku hapus silih berganti, akhirnya aku memutuskan untuk mengiriminya stiker saja. Ku pilih stiker bertuliskan selamat malam berhiaskan bunga dan tanda hati yang ku rasa paling manis kepadanya. 

Tak lama kemudian gawaiku berbunyi, pertanda ada pesan BBM yang masuk. Cepat sekali Adam membalas pesanku, hatiku berdebar kencang saat memegang gawai di tangan. Ku bayangkan kata-kata atau stiker apa yang dipilih Adam untuk membalas pesanku. Aih, kekanak-kanakan sekali diriku, tapi biarlah. Namanya juga orang lagi jatuh hati. 

Dengan perasaan membuncah ku pandangi layar handphone, ku pilih ikon BBM yang menampilkan belasan pesan masuk dari beberapa orang yang berbeda. Benar saja, nama Adam tertera di dalamnya.

(Maaf ini siapa, ya? Kalau ada perlu sebaiknya langsung telepon saja. Saya enggak enak jadi salah paham sama istri gara-gara chat ini)

Begitu bunyi pesan yang tertera di layar. Seketika hatiku mencelos, ada rasa sakit yang ku rasakan. Rasa sakit karena merasa dipermainkan, meskipun aku tahu perasaan ini salah. Hanya saja, mengapa sampai nomer handphoneku pun dia tak menyimpannya? Padahal dia begitu akrab denganku ketika di kantor.

Harus ku balas apa pesan darinya ini? Dadaku sesak memikirkannya, tak sanggup tangan ini bergerak meski hanya untuk menyentuh huruf di layar. Ku letakkan gawai di tempat tidur tanpa membalas pesan dari Adam. 

Pelan-pelan ku pejamkan mata sembari menikmati lagu “Jaran Goyang” yang dilantunkan oleh Nella Kharisma.

Apa salah dan dosaku, sayang

Cinta suciku kau buang-buang

Lihat jurus yang kan ku berikan

Jaran goyang, jaran goyang …

Bersambung ...

  • Share:

You Might Also Like

33 comments

  1. Saya suka endingnya, nggak ketebak. Kasian deh, Vin.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, mbak!

      Krisannya donk, mbak. Biar cerpen saya selanjutnya bisa makin kece. Hehehe

      Delete
  2. Wah.....saya belum pantes kasih krisan, harus yang senior. Buat saya sih udah enak banget dibaca. Cuman judulnya agak terlalu berat. Kalo dia bukan takdirku biasanya udah pacaran lama dan serius tau-tau putus. Ini kan baru naksir sepihak doang. Gitu kira-kira.......

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
  3. Makasih masukannya, mbak! Yang tadi typo. Wkwkwk

    ReplyDelete
  4. Bikin novel doong.. Kereen greget banget ��

    ReplyDelete
  5. Aku dari tadi mau komen gak enak ��
    Itu si A beneran lho nama mantanku wkwkwk.... tapi doi sampai sekarang masih single blm nikah nungguin saya kali #eeeaaa

    ReplyDelete
  6. Aku deg2an bacanya, terus endingnya bikin sakit hati padahal aku udah ngerasain jatuh hati loh. Aih hehe ~

    ReplyDelete
  7. Oalah, ini toh yang diomongin di group. Kalian memang super duper keren. Apa pun ocehannya, bakal dijadikan tulisan. Kalau gak artike, ya buku. Mantap

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe Alhamdulillah selalu dikelilingi org2 hebat dan penuh inspirasi.

      Delete
  8. yyaaahhh... laki orang ternyata, hihi ^^

    ReplyDelete
  9. kalo diterusin jadi novel kayaknya kece nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaaah belum bermimpi bikin novel saya, mbak. Mudah2an suatu saat bisa.

      Delete
  10. Berasa masuk ke cerita, tapi tau2 endingnya putus gitu aja.

    ReplyDelete
  11. Satu kata : Keren! syukaa mbaakk, salam kenal, ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, mbak!

      Salam kenal juga dari saya.

      Delete
  12. Bagus ceritanya, cuman bersambung, jadi penasaran. Saya kasih krisan dikit, ya. Untuk segi kontent atau isi bisa ditambahkan metode 'show not tell' biar lebih berasa feelnya. Tambahin dikit aja. Penulisan udah rapi tapi ada catatan untuk penulisan kata ku, harusnya ditulis serangkai, jangan dipisah dengan kalimat sebelumnya. Ini aja sedikit note dari saya. 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap, mbak! Makasih banyak atas masukannya.

      Delete
  13. Bagus mba...nunggu episode berikutnya

    *Jangan2 ni adam ngerjain lagi, belagak nggak ngesave pin BB+pura2 punya istri

    ReplyDelete
  14. Walaaaah udah punya istri. Ngeselin banget ya Si Adam. Jadi kesel sendiri. 🙈

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi kadang lelaki gak sadar kalo yang dilakukannya berbahaya. meski gak ada niat tapi siapa yang tahu hati perempuan. hehehe

      Delete
  15. Adam tipe cow yg suka tebar pesona ckxk

    ReplyDelete