Sering Dicibir Karena Berprofesi Sebagai Freelance Writer? Kamu Gak Sendiri, Dear!

By Dewi M - October 19, 2018

Bagi saya menulis adalah sebuah hobi yang sangat menyenangkan. Dengan menulis beban pikiran seolah terlepas satu demi satu. Namun, tak pernah terbersit dalam pikiran saya untuk serius menekuni hobi saya saat masih punya banyak waktu luang. Barulah selepas memutuskan untuk fokus menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, hobi yang sempat terabaikan tersebut muncul kembali.

Berawal dari iseng-iseng membaca setiap postingan teman yang lewat di beranda facebook, saat itu postingan salah seorang kawan lama berupa cerpen begitu menyita perhatian saya. Rupanya saat itu, dirinya sedang mengikuti 30 Days Writing Challenge yang gagas oleh Infinity Lovink, sebuah komunitas menulis yang berisikan nyonyah-nyonyah ketjeh. Singkat cerita, akhirnya saya pun ikut bergabung dalam komunitas tersebut berkat bantuan darinya.

Sumber gambar: mumandcareer.com
Dari komunitas menulis itulah akhirnya saya mengenal lebih banyak komunitas menulis lain yang ada di dunia maya. Hingga pada suatu hari postingan dari Teh Indari Mastuti di grup Ibu Ibu Doyan Nulis (IIDN) mengenai training menulis artikel gratis dan bisa menghasilkan dollar lewat di beranda saya. Tanpa pikir panjang saya bergabung dalam training tersebut. 

Tak ada sesuatu yang sia-sia, meskipun saya tak mempunyai pengalaman menulis artikel namun berkat konsistensi dan juga belajar terus menerus saya pun berhasil menaklukan tantangan yang diberikan, bahkan saya bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dengan menjadi kontributor sebagai content writer di media online ataupun sebagai ghost writer

Emang menulis bisa menghasilkan? Mungkin itu pertanyaan yang sering didapat oleh para penulis pemula. Selain pertanyaan mengenai penghasilan yang didapat dari menulis. Biasanya orang-orang di sekitar akan menambahkan bumbu, "ngapain, sih nulis. Buang-buang waktu aja." Parahnya lagi, jika kita sudah bisa membuktikan bahwa menulis pun menghasilkan dan kita mulai melakukan personal branding dengan menambahkan kata Freelance Writer sebagai pekerjaan, nyinyiran tetap berlanjut. "Freelance sih sama saja dengan pengangguran. Kerja tapi kayak enggak kerja."

Biasanya jika saya mendapatkan nyinyiran sedemikian rupa saya hanya akan menjawab, "Ya, emang saya nganggur sih. Gak punya kantor. Kerja yang kayak enggak kerja emang itu yang saya cari" Daripada harus berdebat dan mengagungkan diri, lebih baik diam. Lagipula saya lah yang menikmati hasilnya, bukan mereka. Wajar saja kalau mereka sangsi. Coba kalau mereka juga kecipratan duitnya, dijamin bakalan diam. Bahkan bisa jadi akan jadi fans dan supporter garis kerasmu, Dear! Bagi saya, cukuplah dukungan dari suami dan keluarga terdekat.

Ternyata, setelah berbagi pengalaman dengan ibu-ibu penulis lainnya, merekapun mengalami hal serupa. Freelancer memang bukanlah pekerjaan yang paling keren. Namun, setidaknya sebagai ibu rumah tangga, freelancelah solusi agar kami tetap bisa berpenghasilan namun tetap bisa mengurus semuanya di rumah. Siapa sih yang enggak mau menyalurkan hobi, dibayar pula, plus banyak kenalan baru? Udah gitu, gak perlu ngantor lagi. Kalau saya sih, enggak bakal nolak! 

Nah, jika kalian mengalami hal serupa, sering mendapat sindiran bahkan cibiran akan apa yang kalian lakukan sebaiknya sikapi dengan cara ini, dears!

1. Senyum

Berikan saja senyuman termanismu pada mereka yang mencibirmu. Biarkan mereka tetap dengan nyinyirannya. Jadikanlah hal tersebut sebagai cambuk agar kamu terus maju. Tak perlu memikirkan kata-kata mereka. Tak perlu membalas nyinyiran mereka dengan kata-kata tandingan. Biarkanlah mereka melihat sendiri hasil dari yang kita kerjakan selama ini. Siapa tahu dengan begitu mereka enggak akan nyinyir lagi.

2. Abaikan

Tak perlu diambil hati, omongan-omongan miring yang terdengar dari sekitar. Selama yang kita lakukan bukanlah hal yang buruk, teruskanlah. Selama menulis baik buat kita, tak perlu berhenti hanya karena perkataan mereka. Menulis bukan hanya masalah menghasilkan uang, Dear! Menulis juga ajang untuk berbagi kebaikan, menambah lingkup pertemanan, dan yang paling penting agar pikiran kita tetap happy. 

3. Berpikir positif

Tetaplah berpikir positif meski ada yang meremehkan mu, Dear! Mereka hanya tak tahu saja apa yang kamu dapat dari aktivitas menulismu tersebut. Mereka juga enggak tahu, kan perjuanganmu untuk bisa terus menulis hingga menghasilkan rupiah seperti apa? Seperti yang pernah saya tuliskan di sini.

So, jangan sampai hal negatif yang menghadang menjadikanmu menjadi lemah, ya! Jadikanlah hal tersebut sebagai penyemangat agar kamu bisa terus konsisten menulis dan menjadi lebih baik lagi. 





  • Share:

You Might Also Like

10 comments

  1. Aku masih newbie banget dalam hal menulis, semoga semangatnya mbak bisa menular ke aku, aamin ya rabbal aalamin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk, sama2 belajar bun. Saya juga masih bayik di dunia tulis menulis.

      Delete
  2. Kereeen, semangatnya luar biasa... Smg saya jg bisa menjadi penulis yg bisa menebar kebaikan dan menghasilkan uang. Hehe...

    ReplyDelete
  3. Dengerin kata orang emang nggak ada habisnya ya, Mba. Paling enak memang cari teman satu circle jadi sama-sama mengerti. Tetap semangat menulis mba ^_^

    ReplyDelete
  4. I feel you! At first I was very easy to be upset by that, tapi makin ke sini... well, don't care. Menurut saya, selama yang saya kerjakan itu memang hal yang membuat saya senang, I should've been fine with everything dan nggak usah peduli apa kata orang. Thank you for sharing this!

    ReplyDelete
  5. Haha. I feel you, lebih kerasa lagi kalo harus berhadapan sama generasi orang tua sih kalo udah kayak gini. Kayak ketemu om atau tante yang emang ga ngerti, selalu disangka nyampah karena di rumah aja kerjaannya. Padahal mah yaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, sama seperti yang saya alami. Hehehe
      Tapi sekarang sudah kebal.

      Delete