Kiat Sukses Menulis Artikel Agar Tembus Media Online

By Dewi M - November 17, 2018


Memiliki artikel yang terbit di media online merupakan salah satu dambaan bagi penulis, terutama bagi penulis pemula. Ada rasa bangga tersendiri manakala melihat nama kita tercantum dalam artikel yang diterbitkan oleh media online, apalagi media online berbayar. Berasa keren gitu, deh! Hehehe

Euforia itupun saya rasakan saat pertama kali menerbitkan artikel di salah satu media online. Membaca nama saya tertera di bawah judul artikel menimbulkan sensasi tersendiri, antara bangga, haru, dan juga senang. Maklumlah, saya orangnya memang rada dramatis dalam menyikapi hal baru. Apalagi newbie banget di dunia menulis, yang tak penah mendapatkan pelatihan khusus apalagi ikutan kelas online berbayar yang harganya lumayan menguras kantong emak dengan uang belanja pas-pasan.

Meskipun saat itu tak memperoleh bayaran karena pendapatan dihitung dari monetisasi iklan serta page view artikel kita yang terbit, sementara untuk mendaftar monetisasi iklan caranya lumayan berat. Namun, hal tersebut tak mengurangi semangat dan rasa bangga saya atas pencapaian kecil tersebut.

Melihat nama saya tertera sebagai penulis artikel rupanya menjadi candu tersendiri. Saya pun kepincut dengan dunia tulis menulis artikel. Tanpa target yang muluk-muluk (saat itu bahkan hingga kini, saya hanya menjadikan aktivitas menulis sebagai hobi semata tanpa pernah berharap mendapatkan penghasilan dari situ). Perlahan namun pasti, berkat konsistensi dalam menulis dan menerbitkan artikel, akhirnya akun saya berhasil mendaftar monetisasi. Penghasilan yang walaupun masih recehan berhasil saya kantongi.

Monetisasi iklan menjadi penambah semangat bagi saya, meskipun tidak terlalu mempersoalkan apakah saya dapat uang dari menulis atau tidak. Setidaknya, hal tersebut memacu diri saya untuk semakin rajin menulis dan mencoba mengikuti lomba yang biasanya rutin diadakan oleh platform tempat saya tergabung sebagai kontributor. Benar saja, usaha tak akan pernah mengkhianati hasil. Penghasilan merupakan bonus tak terduga dari hobi menulis yang saya geluti.

Beberapa kali saya berhasil menang lomba dan mendapat sedikit hadiah berupa uang. Bahkan saya berhasil masuk ke dalam top 10 kategori penulis lifestyle bersanding dengan penulis kawakan. Dari situlah pundi-pundi rupiah mulai mengalir melalui proyek-proyek mengerjakan artikel dengan tema dan jumlah tertentu yang bayarannya lumayan. Bisa banget buat jajan mie ayam sekeluarga. Walaupun pada akhirnya saya mengalami hal yang pahit dan menyakitkan berkaitan dengan platform tersebut.

Berbekal dari pengalaman yang ada. Saya memberanikan diri untuk menulis dan mengirimkan artikel ke media online lainnya. Ceritanya sih sudah percaya diri, kalau artikelnya bakal terbit. Soalnya sudah enggak newbie banget. Hehehe Sekali lagi artikel saya berhasil terbit di platform lain dan dibayar per artikel terbit. Perjalanan yang saya lalui pun tak se-ngenes saat baru memulai nulis artikel.

Susah Enggak Sih Bikin Artikel Supaya Bisa Terbit di Media Online?


Sumber gambar: bbc.co.uk

Menulis artikel untuk media online sebenarnya tidak terlalu susah dan tidak sesusah yang dibayangkan kebanyakan penulis pemula. Meskipun demikian, sebaiknya kamu banyak berlatih menulis artikel terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengirimkan artikelmu ke media online. Dengan begitu artikel buatanmu sudah lebih keren dan lebih mudah menembus media online.

Baca Juga ↓:

7 Langkah Mudah Menulis Artikel Agar Enak Dibaca Bagi Pemula


Saya sendiri awal menulis artikel di media online yang cukup mudah menerbitkan artikel penulisnya, karena sistemnya bukan bayar per terbit namun bayar per view, seperti yang telah saya jelaskan di awal tadi. Meskipun di awal tidak menghasilkan, namun saya tetap penuh semangat menulis di media tersebut. Hitung-hitung latihan menulis artikel, pikir saya saat itu. Tapi, bukan berarti tanpa kendala, lho! Justru yang begini nih, yang banyak tantangannya. Pernah suatu kali, artikel yang terbit, tiba-tiba saja dioffline oleh editor dengan alasan ada konten yang kurang berkenan di dalamnya. Yang ternyata adalah penggunaan gambar dan sumber artikel yang tidak diperbolehkan oleh platform tersebut.

Jadi, bukan tak mungkin, artikel buatanmu ditolak sebelum terbit, yang artinya perlu direvisi kembali agar sesuai dengan aturan yang berlaku dalam platform tersebut. Saya pun merasakan hal tersebut apalagi saat awal bergabung. Pernah sampai 6 kali merevisi satu artikel sebelum terbit. Perjuangan banget, ya!

Caranya?


Sumber gambar: dailysocial.id

Lalu, bagaimana sih caranya menulis artikel untuk media online biar tak banyak ditolak, apalagi sampai berkali-kali? Apakah ada kiat khususnya atau menulis saja seperti biasa sebagaimana kita menulis untuk blog atau akun sosmed? Jelas, berbeda. Menulis untuk media sangat berbeda dengan menulis untuk blog pribadi yang sifatnya lebih personal, ya Dear

Diperlukan sedikit trik agar artikel buatanmu sukses tembus media online. Apa sajakah itu? Berikut kiat sukses menulis artikel agar tembus media online (ini menurut pengalaman dan sedikit pengamatan saya, ya!):

1. Pelajari Gaya Bahasa Platform yang Kamu Bidik

Hal ini penting sekali untuk dilakukan sebelum mengirimkan artikelmu ke media online pilihanmu. Setiap platform memiliki gaya tulisan dan juga gaya bahasa yang berbeda. Ada yang lebih menyukai menerbitkan artikel dengan gaya bahasa santai khas anak muda, ada yang menyukai gaya bahasa formal, bahkan ada pula platform yang menyukai gaya bercerita satire.

Misalnya saja kamu ingin mengirimkan artikel buatanmu ke Estrilook.com. Agar artikelmu dilirik, maka gunakan gaya bahasa yang biasanya dipakai penulis yang artikelnya sudah terbit di platform tersebut. Menulis artikel sebagai kontributor media online sangat jauh berbeda dengan menulis di blog pribadi kita sendiri. Jika di blog pribadi, kita bebas menulis sesuai dengan gaya bercerita yag kita mau, lain halnya dengan menulis di media online yang memiliki peratutan tersendiri.

Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, bahwa saya pernah merasakan artikel ditolak, bahkan dioffline padahal sudah terbit sebelumnya karena ada beberapa peraturan yang tanpa sadar saya langgar. 

Berikut salah satu contoh artikel saya yang berhasil terbit di salah satu media online, baca di sini. Jadi banyak-banyak membaca artikel yang telah terlebih dahulu terbit di media incaranmu dan pelajari dengan baik gaya bahasa serta gaya penulisan yang digunakan dalam artikel-artikel tersebut, dengan begitu peluang artikelmu untuk terbit semakin besar.

2. Buatlah Judul yang Menarik

Pemilihan judul juga sangat mempengaruhi, lho! Dengan judul yang menarik, biasanya editor akan melirik artikelmu dan bukan tak mungkin berminat menerbitkannya. Buatlah judul semenarik dan seindah mungkin, namun tetap berkaitan dengan isi artikel yang kamu buat. Judul yang menarik akan membuat pembaca menjadi penasaran dan pada akhirnya memutuskan untuk membaca artikel yang kamu tulis. Untuk tips membuat judul yang kece, tunggu artikel saya selanjutnya, ya!


3. Pilih Topik yang Disukai oleh Pembaca

Menulis artikel tak boleh sembarangan, lho! Kamu harus jeli dalam memilih topik yang disukai oleh para pembaca. Jangan sampai kamu memilih tema yang tak populer, ya! Bisa-bisa artikelmu lumutan dan tidak terbit-terbit. Jika memungkinkan, pilih topik yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan atau yang lagi viral namun dari sudut pandang yang berbeda. Hal ini juga menaikkan peluang terbit artikel milikmu.

Bahkan jika kamu mengulasnya dengan menarik, bukan tak mungkin artikelmu akan terbit dengan cepat. Cara ini sukses dipraktekan beberapa teman penulis. Menulis topik yang sedang hot, membuat artikel lebih diperhatikan oleh editor. 

4. Buatlah artikel yang Informatif

Selain menulis topik yang sedang hot, kamu juga bisa menulis artikel yang berisi informasi bermanfaat bagi para pembaca. Misalnya saja, kamu bisa menulis perihal manfaat buah-buahan tertentu bagi kesehatan. Atau kamu bisa mengangkat mengenai parenting, do's and dont's dalam membesarkan anak, dan lain-lain. Kemas secara menarik agar tak membosankan, namun tetap sesuai dengan gaya bahasa platform yang kamu tuju.

5. Self Editing

Tulisan yang tidak rapi dan banyak typo pastinya bakal membuat editor gerah dan pada akhirnya melemparkan tulisanmu ke bin atau tong sampah tanpa pikir panjang. Oleh karena itu, lakukan self editing sebelum memutuskan mengirimkan artikelmu ke media online. Hal tersebut untuk meminimalisir typo yang mungkin saja ada pada artikel, serta membuat artikel lebih menarik jika ada kalimat yang perlu untuk diganti atau dihapus.

Jangan lupa, saat mengoreksi artikelmu sendiri, tempatkan diri sebagai pembaca bukan sebagai penulis artikel. Agar kesalahan penulisan serta kalimat yang kurang pas bisa terdeteksi dengan baik.

6. Nekad

Selain beberapa teori di atas, kamu harus percaya diri dengan artikelmu. Tak perlu malu untuk menulis artikel dan mengirimkannya ke media online. Masalah diterima atau ditolak, itu urusan belakangan dan urusan editor. Tugas kita hanya menulis dan terus menulis. Yang paling penting kamu sudah mencoba dan siap menghadapi penolakan. Sikap nekad sangat diperlukan agar kamu tak mudah berputus asa. Jika ditolak, jangan menyerah. Perbaiki artikelmu dan coba lagi sampai tembus media online

Bagaimana? Siap menulis artikelmu untuk dikirim ke media online? Jangan ragu apalagi malu atau takut ditolak. Ditolak mah udah biasa, tapi kalau sudah berhasil. Beeuh, rasanya menyenangkan sekali. Tak perlu minder apalagi sampai rendah diri. Yakinlah, bahwa penulis besar pun tentu pernah ada di posisimu sekarang ini. Teruslah belajar dan jangan berhenti berkarya.

Selamat mencoba.

Semoga artikel ini bermanfaat, Dear! Bagi yang punya pengalaman bagaimana perjalanannya dalam menembus media online, yuk sharing di kolom komentar!

  • Share:

You Might Also Like

29 comments

  1. thanks for sharing mbak! Sampai sekarang belum pernah kirim tulisan ke media online. Nulis di blog sendiri aja kadang gak konsisten hehe

    ReplyDelete
  2. Sama2, mbak!
    Yuk, mbak coba2 kirim artikel ke media online. Seru, lho!

    ReplyDelete
  3. Ini mah mastahnya yess, yuk ngisi lagi di web ane,Bu Eko kwkwkwk *minta digetok :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kan belajar banyak dari bun muy. Hihihi

      Delete
  4. wah mantap tipsnya. terimakasih ya sudah sharing. saya suka tips terakhir hahaha..

    ReplyDelete
  5. Nekat emang kadang perlu juga ya mbak, yg penting percaya diri aja

    ReplyDelete
  6. Salam knal mb dewi, bermanfaat banget tipsnya. Kereen mb, trmkasaih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal, mbak! Terima kasih sudah mampir

      Delete
  7. Info yg sangat berguna mb trima kasih banyak,, baru aja saya mau kirim artikel k platform itu hehe,, cus saya pelajari dulu artikel yg terbit dsna.. Mudah2 artikel saya tembus 😁😉

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat, mbak! Semoga berhasil. Sukses selalu

      Delete
  8. Tipsnya bermanfaat sekali, Mbak. Jadi kita nggak perlu putus asa meskipun artikel ditolak ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, mbak! Ditolak itu biasa, malah bisa dijadikan bahan belajar biar tulisan kita semakin baik.

      Delete
  9. Saya selalu suka baca tulisan seperti ini, berasa dipaksa-paksa supaya terus nulis dan kirim ke mana gitu. Mbak Dewi pernah punya pengalaman nggak enak dengan dalah satu platform, saya pernah baca penulis lain juga ada yang punya pengalaman begitu. Kenapa bisa begitu ya, Mbak? Apa sebabnya? Gimana cara menghndari terjadinya hal-hal seperti itu? Bukannya saya kepo, cuman supaya kita yang baru mau nyoba-nyoba ngirim bisa tau musti gimana kalo terjadi kayak gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entahlah, mengapa bisa seperti itu. Untuk menghindarinya sebenarnya bisa dilihat dari pengalaman teman2 mengenai platform tsb. Saya dulu udah tau kalo platform tempat saya bergabung sering bermasalah sama kontributor, tapi saya tetap nekat. Akhirnya, ngerasain juga. Hehehe

      Delete
  10. Pasti bangga liat karya kita bisa diapresiasi banyak orang. Tapi saya kok belum pede ya nulis artikel untuk diterbitkan gitu. Hihi ^^

    ReplyDelete
  11. Suka tipsnya, Mbaa
    Lebih2, media online sekarang ini bejibun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes, bisa milih2. Tapi tetap harus hati2 karena banyak juga yang gak amanah sekarang.

      Delete
  12. self editing itu part yang kadang bikin ngh. saya suka nggak teliti soalnya baca naskah sendiri. ntar tiba-tiba ada yang typo atau kelewat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaaa. Padahal mata udah pegel melototin artikel, tetap aja ada yang kelewat. Hehehe

      Delete
  13. Makasih ya mbak dewy atas sharing nya.., saya skrng masih proses mengintip gaya penulisan tiap artikel di setiap media. Kayakanya belum ada yg pas dgn tulisan saya..jd saya masih belum pede ngirim. Masih perlu diasah lagi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat, bun! Jangan ragu untuk ngirim ke media.

      Delete
  14. Artikelku udah tak edit masih belum bener deh. Hhmm

    ReplyDelete
  15. Pernah waktu itu menjadi kontributor salah satu media online, namun sudah tidak aktif lagi mengirimkan karena sering tidak tembus haha. Setelah membaca ini jadi semangat lagi

    ReplyDelete
  16. Keren ih tips nya, nomor dua saya sedang berlatih biar judul lebih menarik... hahaha, belajar bikin judul dulu baru kirim... sampai sekarang blm ada niat kirim ke media online karena tulisan blm lemes, masih senang post di blog pribadi.. Saya perlu banyak belajar dan tetap semangat belajar,,

    ReplyDelete
  17. Nulis di media online masih sembariiii aja kalau sekarang, karena masih asyik ngisi blog sendiri 😂😂

    ReplyDelete