Plagiat: Tips Agar Tetap Kalem Menghadapi Plagiator!

By Dewi M - November 13, 2018

Plagiat! Satu kata beragam rasa. Mendengarnya saja bisa memunculkan perasaan jengkel, kesal, muak, malu, hingga sedih. Plagiarisme ataupun plagiat umumnya menjadi momok bagi kebanyakan penulis. Tak hanya bagi penulis yang karyanya sudah melambung. Penulis pemula yang karyanya masih recehan banget seperti saya saja tak luput dari incaran para plagiator. Sialnya, saya pernah menemukan karya saya diplagiat oknum tidak bertanggung jawab. Bukan cuman sekali, Dear! Tapi sampai 3 kali (ini yang ketahuan).

 Sumber gambar: anangili.web.id

Padahal, jikalau dipikir, karya saya masih jauh dari kata bagus. Istilahnya kerennya masih ecek-ecek, lah! Tapi emang sih, karya yang diplagiat tersebut umumnya memiliki viewer selangit. Sebagai kontibutor suatu platform berita online, yang mengandalkan view pengunjung sebagai tolak ukur pendapatan, tentu saja sebisa mungkin saya turut share tulisan yang diterbitkan. Dampaknya ketika tulisan tersebut memiliki pengunjung hingga puluhan ribu, maka sudah pasti akan nongkrong di headline platform selama berjam-jam bahkan berhari-hari. Mungkin saja, hal tersebut yang memicu khilafnya para penulis yang memang malas berpikir namun ingin punya karya.

Bayangin aja, Dear! Artikel saya yang diplagiat, bener-benar plek sak gambar-gambarnya. Udah gitu, tuh orang dapat monetisasi dari iklan beserta bonus lainnya. Parah, kan? Lantas apa saya tidak melapor ke pihak yang berwenang (admin platform tersebut). Tentu saja saya melapor, tapi apa daya mereka cuek bebek. Nyeseeek. Akhirnya saya hanya bisa pasrah.

Menghadapi hal miris nan mengiris hati tersebut saya mencoba untuk berpikir positif dan menghibur diri, "Waah, berarti saya hebat donk, ya! Tulisan gitu aja ada yang mau mencontek." Hehehe Begitulah biasanya yang saya lakukan.

Sebenarnya jika plagiator tersebut kreatif sedikit saja, artikel tersebut bisa di rewrite. Dengan tema dan pokok bahasan yang sama bisa dibuat artikel dengan kata-kata dan gayanya sendiri dan menggunakan gambar yang berbeda pula. Saya sering kok, me-rewrite artikel dari media-media besar. Tema sama, hanya saja bahasa dan gaya penulisan, ya sesuai dengan gaya saya sendiri. Masa iya, saya jiplak plek ketiplek. Malu sama kucing, tau! Kalau kata Romaria. Demi apa pun juga, saya gengsi kalau harus menjiplak karya orang lain. Apalagi sampai diberi label PLAGIATOR. Naudzubillahi min dzalik.

Menemukan tulisan kita yang diplagiat, tentu saja membuat hati hancur berkeping-keping, untungnya tidak sesesak rasanya kalau habis putus cinta. Tapi, sebelas dua belaslah, sama seperti kalau kita nagih utang terus tak dibayar, malah diomelin pula. Andai saja, mereka tahu bahwa menulis itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pastinya mereka yang memplagiat tahu, sih! Makanya plagiator milih memplagiat tulisan penulis lain. Karena apa? Karena mereka malas mikir, tak mau susah.

Jangankan artikel yang nulisnya saja lumayan membuat jari berolahraga, tagline yang seuprit saja kalau diplagiat sakitnya tak terperi. Saya pribadi, selalu behati-hati dalam menulis. Begitupun ketika mencari tagline sebagai branding diri. Meskipun kelihatannya sepele, namun memiliki tagline berbeda dari kebanyakan orang membawa keuntungan sendiri buat saya. Apa saja untungnya? Tentu saja saya bangga karena tulisan yang hanya beberapa kata tersebut murni dari hasil pikiran saya sendiri. Meskipun untuk menemukannya butuh waktu yang lumayan panjang dan memeras otak bahkan membuat geger grup wa yang berisi sahabat penulis. Keuntungan kedua adalah saya langsung tahu jika ada yang mencontek alias memplagiat.

Nah, kalau yang satu ini sampai ada yang plagiat juga, bener-bener deh! Saya sumpahin diri sendiri aja, biar makin kreatif dan bisa nyiptain tagline baru yang lebih kece, keren, serta lebih berkesan di hati para pembaca. 

Back to the artikel yang diplagiat.

Bagaimana Memastikan Bahwa Artikel Kita Tidak Plagiat?

 

Sumber gambar: pinterest.com

Bagaimana kalau artikel yang kita tulis ternyata kembar dengan artikel orang lain alias plagiat secara tidak sengaja? Tenang, sekarang zaman sudah canggih. Sebelum menerbitkan artikel, agar semakin yakin kalau artikel buatanmu bebas plagiat, ada baiknya dicek dulu pakai pendeteksi plagiat. 

Banyak tools yang bisa dipakai untuk mendeteksi plagiat alias plagiarism checker. Ketik saja di google, maka kamu akan menemukan berbagai macam website yang bisa digunakan untuk mengecek plagiat pada tulisanmu. Tinggal copy dan paste saja tulisanmu pada kolom yang tersedia, tak sampai semenit hasilnya akan muncul. 

Jika artikel yang kamu tulis terdeteksi plagiat, sebaiknya segera ubah kalimat yang terdeteksi plagiat dengan kalimat berbeda namun maksudnya sama. Dengan begitu artikel yang kamu terbitkan benar-benar bebas plagiat. Daripada malu dan dituduh jadi plagiator, ya kan! Jadi, tidak ada alasan lagi untuk tak menerbitkan artikel yang benar-benar bermutu hasil buah pikiran sendiri.

Yang paling penting jangan lupa untuk selalu mencantumkan sumber referensi jika kamu mengutip kalimat dari artikel orang lain. Hal yang sama berlaku jika kamu memakai gambar untuk artikelmu, ya Dear!

Tips Menghadapi Plagiator

Sumber gambar: idntimes.com

Meskipun rasanya nyesek dan bikin baper berkepanjangan, tapi kita tak boleh bertindak gegabah, Dear! Banyak cara yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan masalah satu ini tanpa perlu adu otot jempol apalagi sampai adu mulut. Berikut tips ala saya dalam menghadapi orang yang doyan memplagiat karya orang lain:

1. Mintalah Penjelasan

Jika kamu orangnya gampang baper dan tak bisa tenang sebelum mendapat penjelasan dari yang bersangkutan, ada baiknya hubungi orang yang memplagiat tulisanmu tersebut. Namun, lakukan hal tersebut secara santun, ya Dear! Tanyakan baik-baik, apa maksud dan tujuannya. Bagaimana jika orang tersebut tak mau mengakui? Hello, zaman sekarang mah artikel yang terbit, baik media online ataupun cetak pasti ada tanggal lengkap dengan waktunya. Jadi, tak bakal ada yang bisa berkelit. 

2. Keep Calm

Berbeda dengan cara di atas, cara satu ini pas banget buat kamu yang tak mau membuang energi menghadapi orang-orang tak tau malu tersebut. Mau mengkonfrontasi kok malas rasanya, bukan apa-apa! Bagaimana jika orang yang bersangkutan justru marah-marah, apalagi jika yang memplagiat karya kita adalah rekan satu tim atau satu grup dalam sebuah komunitas. Nah, bingung kan? 

Mending biarin aja, lebih baik jadikan bahan tulisan. Tapi tanpa harus mencantumkan namanya, ya Dear! Biasanya sih, sebagai manusia biasa, plagiator juga masih punya hati. Mereka juga akan merasa kok kalau sebenarnya tulisan yang kamu buat ditujukan untuk mereka. Tanpa perlu berkoar-koar, kamu tetap bisa mencurahkan isi hati sampai plong dengan tulisan. Curhat sekaligus berkarya ceritanya! 

3. Teruslah Berkarya

Kasus karya yang diplagiat jangan sampai menjadikanmu down hingga akhirnya malas menulis, ya Dear! Kamu justru harus lebih bersemangat. Kalau tulisanmu sampai diplagiat itu tandanya tulisanmu keren. Teruslah menelurkan karya-karya fenomenal hingga kamu dikenal banyak orang dan buat si plagiator segan jika harus memplagiat karyamu lagi. Jangan lelah untuk berbagi meskipun hanya melalui tulisan. SHARING THROUGH WRITING as long as you can write. Semangat terus, Dear!

Membicarakan masalah plagiat, memang tak ada habisnya. Herannya masih banyak, lho penulis lain (masih pantaskah plagiator disebut penulis?) yang dengan pedenya memplagiat karya penulis lain yang masih baru dan perlu banyak bimbingan dalam dunia kepenulisan. 

Kita doakan saja, semoga mereka yang suka copy paste karya orang lain tanpa menyebutkan sumber referensi diberikan hidayah, dibukakan hatinya, serta dibukakan pikirannya agar menyadari bahwa yang mereka lakukan adalah salah, bukan tak mungkin dengan kegiatan mereka tersebut mematikan semangat penulis baru yang karyanya mereka akui alias diplagiat.

Buat kamu-kamu yang karyanya pernah diplagiat, yang sabar, ya Dear! Teruslah berkarya, jangan kasih kendor. Libas plagiator dengan lebih banyak berkarya. Salah seorang teman saya berkata, "tulisan bisa saja diplagiat, tapi kreatifitas tidak bisa diplagiat." Yup, waktu juga lah yang akan membuktikan. Plagiator tak bakal bisa eksis lama-lama, Dear! Hehehe

  • Share:

You Might Also Like

35 comments

  1. Kalau aku sih kesal bgt ya kalau dgr kata plagiat, ga menghargai karya orang sama sekali, bikin jengkel.

    ReplyDelete
  2. Baca ini jd mbuka luka lama mb *lebay wkk
    Sy pernah minta penjelasan tp g digubris
    Tulisan2 sy d ummi online digunakan bwt tujuan komersil
    Tentu korbanny bkn sy aj
    Yg lain g kalah geramny tp akhirny milih "bodo, ah"
    Beberapa temen jg jadi males nulis qkkwkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi penulis harus siap dengan resiko satu ini, ya mbak!

      Delete
  3. Say no to plagiarsm..
    Saya dan teman2 kmrin baru saja mengkampanyekan ini disetiap sudut kampus..
    Smga sj mereka mendapat hidayah..krn hasil yg mereka dapat tdk berkah sama sekali ya mbak

    ReplyDelete
  4. Zolim juga ya mbak,bersenang senang diatas usaha orang. Semoga selalu dibukakan pintu hati orang yg demikian aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga gak ada lagi plagiator di dunia kepenulisan. Aamiin

      Delete
  5. Sayangnya, di negeri kita perlindungan atas karya cipta, terutama tulisan masih sangat lemah. Jangankan dikembalikan haknya, wong kasus si nona plagiat yang tempo hari menggemparkan justru diajak sowan ke istana. Jadi pencuri bukannya malu kok malah bangga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi ya, bun mengenai hak cipta ini.

      Delete
  6. Aku sedih bacanya. Banyak yes asam garam manis asin kek nano nano rasanya wkwk. Seng sabar yes, keep shining and enjoy my (your) story. Ini mah tagline saya wkwk 🤭

    ReplyDelete
  7. Banyak tuh mbak, kita misalnya baca satu artikel, kita baca topik yang sama dengan judul berbeda di blog orang lain, ehh...isinya sama. Copypaste tanpa cerita ulang dengan bahasa sendiri. Waduhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak! Miris banget, ya! Padahal bisa aja direwritr

      Delete
  8. Wah, saya sih belum pernah ketemu plagiator artikel saya. (Lha memang ngeblog-nya juga nggak rajin.) Tapi kalau suatu saat ada, pasti gondok juga ya. Nulis itu nggak gampang, apalagi harus pakai mikir gambar yang cocok apa. Sama seperti saya suka sebel dengan mahasiswa yang asal copy skripsi orang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan sampai deh ngalamin hal ini, mbak! Nyesek. Hehehe

      Delete
  9. Duh Mba nyebelin ya.. padahal utk mencari ide itu rasanyaaa susaaah.. udah gitu dijiplaknya bener2 dijipLak pula, Semoga Mba dapat ganti Yg lebih baik ya.. tetap semangatt

    ReplyDelete
  10. Setuju banget nih, plagiator gak akan abadi mba. Nyesek udah pasti banget, soalnya merasa dicuri :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nyesek boleh tapi jangan sampai nggak nulis lagi. Hehehe

      Delete
  11. Gak ada ide yang benar-benar orisinil kalo kata mentor saya dulu kemiripan sekian persen masih boleh. Kadang gak sengaja pernah baca buku atau media online. Eh, pas nyari ide nulis, kata-kata yang lewat ya yang pernah terbaca itu. Kalo copy paste baru tega namanya hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, mbak! Tapi kan bisa rewrite pakai kata2 kita sendiri. Ide boleh sama tapi gaya bahasa kan bisa dibedakan. Hehehe

      Delete
  12. nyesek banget ya, Mbak
    Saya belum cek tulisan-tulisan saya apa ada yang diplagiat apa tidak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga tidak mengalami deh, mbak! Gak enak banget rasanya, bikin shock. Wkwkwk

      Delete
  13. Duh, kita yang susah-susah mikir dia yang enak. Kok enggak kreatif banget, ya? Kok saya jadi terbawa perasaan. Pastilah ... jika saya ada diposisi Mbak,apa masih bisa kalem. Hehe ... Kalem itu harus. ��

    Jika segala upaya udah dilakukan tetap belum ada hasilnya, percayalah Allah itu enggak tidur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, mbak. Biar Yang Maha Kuasa yang balas. Hehehe

      Delete
  14. Ide sendiri, nulis sendiri. Insyaallah aman dari plagiarisme

    ReplyDelete
  15. Beberapa waktu yang lalu, di medsos ada plagiator yang ditegur sama penulis aslinya. Tapi si plagiator ini malah ngomongnya sengak banget, trus bilang gini" ya kan saya cuma ngambil beberapa kata-katanya". Ya ampun rasanya gemes banget...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ketika plagiator lebih galak dari penulis aslinya. Hihihi

      Delete
  16. Aku pernah nih mba dapat Job dan pas di cek kena plagiat. Ternyata memang benar isinya sama, judul juga hanya ada beberapa poin yang ditambahkan alhasil aku bilang ke yang ngasih JOB kalau artikelnya akan saya ubah dan di acc juga.

    ReplyDelete
  17. Blom ngalamin di plagiat sih, tp klo nagih utang trus gk dibayar pernah wkwk. Cus dah si plagiat ama tkang ngutang tenggelemin aj yuk k segitiga bermuda 😆😆

    ReplyDelete